Negara dengan Tingkat Kepemilikan Rumah Tertinggi di Dunia
Memiliki rumah sendiri sering kali dianggap sebagai simbol dari kestabilan finansial seseorang. Banyak orang mengira bahwa negara-negara kaya pasti memiliki tingkat kepemilikan rumah yang sangat tinggi. Namun, fakta yang terungkap dari data terbaru justru menunjukkan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Beberapa negara dengan persentase pemilik rumah tertinggi justru bukan berasal dari kelompok ekonomi paling kaya.
Data dari OECD Affordable Housing Database dan penelitian mengenai kepemilikan rumah di China menunjukkan bahwa kebijakan perumahan dalam jangka panjang memiliki pengaruh besar dibanding sekadar tingkat pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk melihat negara-negara mana saja yang berhasil mencatat tingkat kepemilikan rumah tertinggi beserta faktor-faktor yang mendorongnya.
1. Slovakia Jadi Negara dengan Tingkat Kepemilikan Rumah Tertinggi

Jika kamu mengira Amerika Serikat, Jerman, atau Swiss berada di posisi teratas, hasilnya justru berbeda. Slovakia menempati peringkat pertama dengan tingkat kepemilikan rumah mencapai 93,5 persen. Artinya, hampir seluruh rumah tangga di negara tersebut tinggal di rumah milik sendiri, baik yang sudah lunas maupun masih memiliki cicilan.
Di bawah Slovakia ada Romania dengan angka 92,8 persen dan Kroasia sebesar 90,4 persen. China berada di posisi keempat dengan tingkat kepemilikan rumah mencapai 90 persen, disusul Lithuania sebesar 86,9 persen. Menariknya lagi, delapan dari sepuluh besar negara dengan tingkat kepemilikan rumah tertinggi merupakan negara yang saat ini atau sebelumnya pernah berada di bawah sistem komunis.
2. Warisan Kebijakan Lama Masih Mempengaruhi Kepemilikan Rumah

Tingginya angka kepemilikan rumah di Eropa Timur ternyata bukan terjadi begitu saja. Setelah runtuhnya sistem komunis, banyak rumah yang sebelumnya dimiliki negara dijual kepada para penghuninya dengan harga yang sangat murah. Kebijakan tersebut membuat jutaan keluarga akhirnya bisa memiliki rumah sendiri dalam waktu relatif singkat.
Kondisi itu masih terasa hingga sekarang karena rumah-rumah tersebut tetap menjadi aset milik keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akibatnya, negara-negara seperti Lithuania, Bulgaria, Polandia, dan Latvia masih mempertahankan tingkat kepemilikan rumah yang sangat tinggi hingga saat ini. Data tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah puluhan tahun lalu masih memberikan dampak besar terhadap kondisi perumahan saat ini.
3. Reformasi Perumahan China Menciptakan Jutaan Pemilik Rumah

China juga menjadi contoh menarik dalam daftar ini. Negara tersebut mencatat tingkat kepemilikan rumah sebesar 90 persen, bahkan lebih tinggi dibanding banyak negara maju lainnya. Menurut penelitian dalam Journal of Housing and the Built Environment, salah satu faktor yang mendorong tingginya angka tersebut adalah reformasi perumahan yang mulai diterapkan pemerintah pada era 1990-an.
Saat itu, pemerintah menjual banyak apartemen milik negara kepada para penghuninya dengan harga yang mendapat subsidi. Kebijakan tersebut mempercepat pertumbuhan kepemilikan rumah di seluruh negeri. Kini, properti menjadi salah satu bentuk kekayaan terbesar bagi banyak keluarga di China dan memiliki peran penting dalam perekonomian negara tersebut.
4. Negara Kaya Belum Tentu Memiliki Banyak Pemilik Rumah

Fakta lain yang gak kalah menarik adalah posisi beberapa negara maju dalam daftar ini. Jerman hanya memiliki tingkat kepemilikan rumah sebesar 41 persen, sedangkan Swiss bahkan lebih rendah lagi, yaitu 38,2 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah di antara seluruh negara yang masuk dalam pemeringkatan.
Bukan berarti masyarakat di kedua negara tersebut kesulitan membeli rumah, ya. Justru, pasar sewa di sana berkembang sangat baik dengan perlindungan hukum yang kuat bagi penyewa. Banyak orang memilih menyewa rumah dalam jangka panjang karena tetap memberikan rasa aman dan biaya yang relatif terjangkau dibanding harus membeli properti.
5. Kebijakan Perumahan Lebih Menentukan Daripada Kekayaan Negara

Jika melihat keseluruhan data, terlihat bahwa tingkat kekayaan sebuah negara bukan satu-satunya faktor yang menentukan banyaknya masyarakat yang memiliki rumah sendiri. Rata-rata tingkat kepemilikan rumah di negara anggota OECD berada di angka 70,1 persen. Sementara itu, negara-negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, hingga Prancis justru berada di sekitar atau bahkan di bawah rata-rata tersebut.
Data ini memperlihatkan bahwa kebijakan perumahan, sistem pembiayaan, hingga kualitas pasar sewa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan masyarakat untuk membeli rumah. Negara yang mampu menyediakan akses kepemilikan rumah melalui kebijakan jangka panjang sering kali menghasilkan tingkat kepemilikan rumah yang lebih tinggi, meski pendapatan per kapitanya gak selalu menjadi yang terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan memiliki rumah lebih banyak ditentukan oleh kebijakan yang tepat daripada sekadar tingkat kemakmuran suatu negara.
Posting Komentar untuk "Bukan Negara Kaya, Tapi Pemilik Rumah Terbanyak di Dunia"